IQ, EQ, SQ, dan Q yang lain

Oleh: Subhan El Hafiz

Awalnya kita mengenal IQ yang memang merupakan Q pertama yang diperkenalkan dan dibahas dalam ilmu psikologi. Seiring berjalannya waktu muncul EQ, SQ, lalu ESQ, AQ, dan Q-Q lainnya. Tapi apakah Q itu sebenarnya?

Q adalah singkatan dari quotient, sedangkan IQ adalah Intelligent Quotient. Makna quotient sendiri adalah hasil bagi, sedangkan konsep IQ adalah skor rata-rata kecerdasan seseorang. Konsep rata-rata digunakan untuk menjelaskan bahwa skor IQ tidak bersifat mutlak, yaitu: skor 120 , misalnya, adalah nilai rata-rata dari beberapa aspek kecerdasan yang diukur. Berdasarkan hal ini, IQ dalam ilmu psikologi sering dijelaskan dalam rentang tertentu, salah satunya IQ 90-110 adalah normal.

Namun bagaimana dengan EQ dan SQ?

Sebenarnya dua istilah tersebut tidak tepat untuk menjelaskan konsep kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Penggunaan Q baru tepat jika sudah dilakukan pengukuran tingkat kecerdasan masing-masing dari kedua aspek tersebut. Jika belum dilakukan kuantifikasi, maka penggunaan istilah yang tepat adalah Emotional Intelligent (EI) dan Spiritual Intelligent (SI).

Sebenarnya, Goleman (pencetus EI) dan Zohar (pencetus SI) tidak pernah memberikan “Q” pada konsep mereka. Bahkan buku mereka (dalam bahasa aslinya) berjudul Emotional Intelligent (Goleman) dan Spiritual Intelligent (Zohar). Namun untuk keperluan marketing, di Indonesia dilakukan perubahan konsep dengan memberikan “Q”.

Lalu bagaimana dengan Q yang lain?

Sejauh ini, dalam psikologi baru ada tiga konsep kecerdasan, yaitu: kognitif, emosi (EI), dan spiritual (SI). Namun SI sesungguhnya masih menyisakan missing-link yang harus terus diteliti dan dikembangkan agar konsepnya utuh. Sedangkan Q-Q yang lain adalah gabungan konsep dari beberapa konsep yang tiga tersebut. Berbagai pola penggabungan menyebabkan muncul berbagai Q yang lain.

Untuk pengguna jasa psikologi, mengenai banyaknya Q dalam ranah ilmu psikologi perlu menyikapi secara kritis. Secara umum segala aspek psikologis dapat diukur, namun pengukurannya membutuhkan keajegan dan validitas agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu perlu bagi konsumen untuk bertanya dan menggali lebih jauh apabila berniat melakukan tes psikologi.

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)